Tampilkan postingan dengan label Rangkuman PAI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rangkuman PAI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Juli 2013

Manfaat Shalat Tahajjud


Shalat Tahajjud sangat besar manfaatnya. Selain manfaat di akhirat, sholat tahajud juga sangat bermanfaat di dunia. Adapun manfaat shalat Tahajjud bagi orang yang mau mengerjakannya adalah sebagai berikut :




Manfaat Shalat Tahajjud Yang Pertama
     Akan menjadikan pelakunya memiliki sifat rendah hati. Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya :“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan diatas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Dan orang yang melalui malam hari dengan sujud dan berdiri untuk Tuhan mereka”

Manfaat Shalat Tahajjud Yang Kedua
     Akan menjadikan pelakunya sebagai orang yang selalu mensyukuri nikmat Allah SWT. Sebagaimana yang telah diterangkan didalam hadist Nabi SAW, yang artinya : “Sungguh Rasulullah SAW berdiri dan shalat hingga kedua telapak kakinya atau kedua betisnya bengkak, maka jawabnya : “Bukankah aku ini seorang hamba yang banyak bersyukur”. (HR. Jam’ah kecuali Imam Abu Daud, yang bersumber dari Al Mughirah bin Syu’bah R.A)

Manfaat Shalat Tahajjud Yang Ketiga
    Dapat melepaskan simpul godaan syaitan (mengusir syaitan) serta menjadikan badan segar dan penuh semangat. Sebagaimana sabda Nabi SAW yang artinya: “Pada waktu seseorang tidur, syaitan membuat tiga buah simpul dikepalanya. Untuk setiap ia mengatakan : “tidurlah engkau sepanjang malam, bila ia terbangun, lalu menyebut nama Allah, maka lepaslah satu simpul, Jika ia berwudhu, maka lepaslah satu simpul lagi; dan jika ia shalat, maka terbukalah seluruh simpul. Pada waktu bangun lagi,ia akan merasa penuh semangat dengan badan yang segar. Jika tidak, ia akan bangun pagi dengan perasaan serba tak enak dan malas.”(HR.Imam Bukhari,dari shahabat Abu Hurairah r.a)

Kamis, 06 Juni 2013

APA ITU SYARI’AH, TAREKAT, HAKIKAT DAN MAKRIFAT ?

APA ITU SYARI’AH, TAREKAT, HAKIKAT DAN MAKRIFAT ?


Sebuah tela’ah ringan.
Di zaman saat ini seorang muslim terkadang telah dipusingkan atau dikotak-kotak dalam perbedaan antara Syari’at, Tarekat, Hakikat dan Makrifat. Sebenarnya apa itu semua, apakah itu sebuah kajian akademik ataukah sebuah dogma.
  • Syariat Islam adalah hukum dan aturan Islam yang mengatur seluruh sendi kehidupan umat Muslim. Selain berisi hukum dan aturan, syariat Islam juga berisi penyelesaian masalah seluruh kehidupan ini. Maka oleh sebagian penganut Islam, syariat Islam merupakan panduan menyeluruh dan sempurna seluruh permasalahan hidup manusia dan kehidupan dunia ini. Sumber syariat adalah Al-Qur’an, As-Sunnah.
  • Tarekat (Bahasa Arab: طرق, transliterasi: Tariqah) berarti “jalan” atau “metode”, dan mengacu pada aliran kegamaan tasawuf atau sufisme/ mistisme Islam. Di zaman sekarang ini, tarekat merupakan jalan (pengajian) yang mengajak ke jalan Ilahiyah dengan cara suluk (taqarrub) yang biasanya dilakukan oleh salik.
  • Hakikat (Haqiqat) adalah kata benda yang berarti kebenaran atau yang benar-­benar ada. Yang berasal dari kata  hak (al-Haq), yang berarti milik (ke­punyaan) atau benar (kebenaran). kata Haq, secara khusus oleh orang-orang sufi sering digunakan sebagai istilah untuk Allah, sebagai pokok (sumber) dari segala kebenaran, sedangkan yang berlawanan dengan itu semuanya disebut batil (yang tidak benar).
  • Makrifat berarti pengetahuan yang hakiki tentang Ilahiyah. Dengan orang menjalankan Syari’at, masuk Tarekat, kemudian ber-Hakikat untuk mendapatkan Makrifatullah sehingga menjadi hamba yang selalu mendekatkan diri setiap detik hanya ke Allah.
Lantas bagaimana jalannya
          Seharusnya orang yang mengaku ber-Tarekat, ber-Hakikat dan ber-Makrifat harus berada didalam Syari’at. seharusnya perjalan spritual berasal dari Makrifat yang berarti berpengetahuan meluas dalam memahami Islam baik dalam Al-Qur’an, Hadis, Usul Fiqih, Balaghoh, ‘Ard, dan Bahasa. Dengan keluasan makrifat orang akan mendapat Hakikat Ilahiyah yang melahirkan gerakan tarekat dan berujung pada inti Islam yang tidak lain Syari’at.
Perjalan Nabi Muhammad Saw dimulai dari ma’rifat, tarekat, hakikat dan akhirnya sampai pada syariat. Makrifat adalah bertemu dan mencairnya kebenaran yang hakiki: yang disimbolkan saat Muhammad saw bertemu jibril, hakikat saat dia mencoba untuk merenungkan berbagai perintah untuk iqra, tarekat saat muhammad saw berjuang untuk menegakkan jalannya dan syariat adalah saat muhammad saw mendapat perintah untuk sholat saat isra mikraj yang merupakan puncak pendakian tertinggi yang harus dilaksanakan oleh umat muslim.
          Munculnya istilah Tarekat, Hakikat, dan Makrifat dalam akademisi kajian Islam jauh setelah wafatnya Rasulullah Saw sekitar abad 5 Hijriyah. Sekitar zaman Hujjatul Islam Syeh Imam Al-Ghazaly Asy-Syafi’i yang menyendiri dari kajian ilmiyah (falsafah) setelah menulis Tahafut al-Falasifah. Kemuadian Al-Ghazali menjadi Sufi Sejati dengan menulis kitab sufi Ihya Ulumuddin. kemudian dunia Islam Timur Tengah tenggelam dalam sufi. Dan kemajuan Islam hanya di daerah Mongol, Turki, dan Spanyol yang diprakarsai Ibn Rusdi.
          Tidak seharusnya seorang muslim sejati mengkotak-kotakan ini Syari’ah, ini Tarekat, ini Hakekat, ini Makrifat, karena yang berkata demikian hanyalah orang yang tidak banyak mengetahui ke-ilmuan Islam secara holistik.

RAHASIA MAKRIFAT
          Sangat sulit menjelaskan hakikat dan makrifat kepada orang-orang yang mempelajari agama hanya pada tataran Syariat saja, menghafal ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadist akan tetapi tidak memiliki ruh dari pada Al-Qur’an itu sendiri. Padahal hakikat dari Al-Qur’an itu adalah Nur Allah yang tidak berhuruf dan tidak bersuara, dengan Nur itulah Rasulullah SAW memperoleh pengetahuan yang luar biasa dari Allah SWT.
          Hapalan tetap lah hapalan dan itu tersimpan di otak yang dimensinya rendah tidak adakan mampu menjangkau hakikat Allah, otak itu baharu sedangkan Allah itu adalah Qadim sudah pasti Baharu tidak akan sampai kepada Qadim. Kalau anda cuma belajar dari dalil dan mengharapkan bisa sampai kehadirat Allah dengan dalil yang anda miliki maka PASTI anda tidak akan sampai kehadirat-Nya.
          Ketika anda tidak sampai kehadirat-Nya sudah pasti anda sangat heran dengan ucapan orang-orang yang sudah bermakrifat, bisa berjumpa dengan Malaikat, berjumpa dengan Rasulullah SAW dan melihat Allah SWT, dan anda menganggap itu sebuah kebohongan dan sudah pasti anda mengumpulkan lagi puluhan bahkan ratusan dalil untuk membantah ucapan para ahli makrifat tersebut dengan dalil yang menurut anda sudah benar, padahal kadangkala dalil yang anda berikan justru sangat mendukung ucapan para Ahli Makrifat cuma sayangnya matahati anda dibutakan oleh hawa nafsu, dalam Al-Qur’an disebuat Khatamallahu ‘ala Qulubihim (Tertutup mata hati mereka) itulah hijab yang menghalangi anda menuju Tuhan.
          Rasulullah SAW menggambarkan Ilmu hakikat dan makrifat itu sebagai “Haiatul Maknun” artinya “Perhiasan yang sangat indah”. Sebagaimana hadist yang dibawakan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya sebagian ilmu itu ada yang diumpamakan seperti perhiasan yang indah dan selalu tersimpan yang tidak ada seoranpun mengetahui kecuali para Ulama Allah. Ketika mereka menerangkannya maka tidak ada yang mengingkari kecuali orang-orang yang biasa lupa (tidak berzikir kepada Allah)” (H.R. Abu Abdir Rahman As-Salamy).
          Di dalam hadist ini jelas ditegaskan menurut kata Nabi bahwa ada sebagian ilmu yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali para Ulama Allah yakni Ulama yang selalu Zikir kepada Allah dengan segala konsekwensinya. Ilmu tersebut sangat indah laksana perhiasan dan tersimpan rapi yakni ilmu Thariqat yang didalamnya terdapat amalan-amalan seperti Ilmu Latahif dan lain-lain.
          Masih ingat kita cerita nabi Musa dengan nabi Khidir yang pada akhir perjumpaan mereka membangun sebuah rumah untuk anak yatim piatu untuk menjaga harta berupa emas yang tersimpan dalam rumah, kalau rumah tersebut dibiarkan ambruk maka emasnya akan dicuri oleh perampok, harta tersebut tidak lain adalah ilmu hakikat dan makrifat yang sangat tinggi nilainya dan rumah yang dimaksud adalah ilmu syariat yang harus tetap dijaga untuk membentengi agar tidak jatuh ketangan yang tidak berhak.
          Semakin tegas lagi pengertian di atas dengan adanya hadist nabi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah sebagai berikut : “Aku telah hafal dari Rasulillah dua macam ilmu, pertama ialah ilmu yang aku dianjurkan untuk menyebarluaskan kepada sekalian manusia yaitu Ilmu Syariat. Dan yang kedua ialah ilmu yang aku tidak diperintahkan untuk menyebarluaskan kepada manusia yaitu Ilmu yang seperti “Hai’atil Maknun”. Maka apabila ilmu ini aku sebarluaskan niscaya engkau sekalian memotong leherku (engkau menghalalkan darahku). (HR. Thabrani).
          Hadist di atas sangat jelas jadi tidak perlu diuraikan lagi, dengan demikian barulah kita sadar kenapa banyak orang yang tidak senang dengan Ilmu Thariqat? Karena ilmu itu memang amat rahasia, sahabat nabi saja tidak diizinkan untuk disampaikan secara umum, karena ilmu itu harus diturunkan dan mendapat izin dari Nabi, dari nabi izin itu diteruskan kepada Khalifah nya terus kepada para Aulia Allah sampai saat sekarang ini.
          Jika ilmu Hai’atil Maknun itu disebarkan kepada orang yang belum berbait zikir atau “disucikan” sebagaimana telah firmankan dalam Al-Qur’an surat Al-‘Ala, orang-orang yang cuma Ahli Syariat semata-mata, maka sudah barang tentu akan timbul anggapan bahwa ilmu jenis kedua ini yakni Ilmu Thariqat, Hakikat dan Ma’rifat adalah Bid’ah dlolalah.
          Dan mereka ini mempunyai I’tikqat bahwa ilmu yang kedua tersebut jelas diingkari oleh syara’. Padahal tidak demikian, bahwa hakekat ilmu yang kedua itu tadi justru merupakan intisari daripada ilmu yang pertama artinya ilmu Thariqat itu intisari dari Ilmu Syari’at.
          Oleh karena itu jika anda ingin mengerti Thariqat, Hakekat dan Ma’rifat secara mendalam maka sebaiknya anda berbai’at saja terlebih dahulu dengan Guru Mursyid (Khalifah) yang ahli dan diberi izin dengan taslim dan tafwidh dan ridho. Jadi tidak cukup hanya melihat tulisan buku-buku lalu mengingkari bahkan mungkin mudah timbul prasangka jelek terhadap ahli thariqat.
          Dalam setiap peristiwa yang mewarnai kehidupan ini, seringkali kita tidak mampu atau tidak mau menangkap kehadiran Allah dengan segala sifat-sifatNya. Padahal sifat-sifat Allah sangat terkait erat dengan ayat-ayat kauniyahNya yang terhampar di atas muka bumiNya. Betapa Allah –melalui ayat-ayat kauniyahNya- memang ingin menunjukkan keMaha KuasaanNya dan keMaha BesaranNya agar hamba-hambaNya senantiasa mawas diri, waspada dan berhati-hati dalam bertindak dan berprilaku agar tidak mengundang turunnya sifat JalilahNya yang tidak akan mampu dibendung, apalagi dilawan oleh siapapun, dengan upaya dan sarana kekuatan apapun tanpa terkecuali, karena memang Allahlah satu-satunya pemilik kekuatan dan kekuasaan terhadap seluruh makhlukNya.
          Berdasarkan pembacaan terhadap ayat-ayat Al Qur’an secara berurutan, terdapat paling tidak empat ayat yang menyebut sifat-sifat Jamilah dan Jalilah Allah secara berdampingan, yaitu: pertama, surah Al-Ma’idah [5]: 98, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. kedua, akhir surah Al-An’am [6]: 165, “Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
           ketiga, surah Ar-Ra’d [13]: 6, “Mereka meminta kepadamu supaya disegerakan (datangnya) siksa, sebelum (mereka meminta) kebaikan, padahal telah terjadi bermacam-macam contoh siksa sebelum mereka.Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai ampunan (yang luas) bagi manusia sekalipun mereka zalim, dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar sangat keras siksanya”. Dan keempat, surah Al-Hijr [15]: 49-50, “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya adzab-Ku adalah adzab yang sangat pedih”.
Pada masing-masing ayat di atas, Allah menampilkan DiriNya dengan dua sifat yang saling berlawanan; Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang yang merupakan esensi dari sifat JamilahNya, namun pada masa yang sama ditegaskan juga bahwa Allah amat keras dan pedih siksaanNya yang merupakan cermin dari sifat JalilahNya. Menurut Ibnu Abbas r.a, seorang tokoh terkemuka tafsir dari kalangan sahabat, ayat-ayat tersebut merupakan ayat Al Qur’an yang sangat diharapkan oleh seluruh hamba Allah s.w.t. (Arja’ Ayatin fi KitabiLlah).
          Karena –menurut Ibnu Katsir- ayat-ayat ini akan melahirkan dua sikap yang benar secara seimbang dari hamba-hamba Allah yang beriman, yaitu sikap harap terhadap sifat-sifat Jamilah Allah dan sikap cemas serta khawatir akan ditimpa sifat Jalilah Allah (Ar-Raja’ wal Khauf). Sementara Imam Al-Qurthubi memahami ayat tentang sifat-sifat Allah swt semakna dengan hadits Rasulullah s.a.w. yang menegaskan, “Sekiranya seorang mukmin mengetahui apa yang ada di sisi Allah dari ancaman adzabNya, maka tidak ada seorangpun yang sangat berharap akan mendapat surgaNya. Dan sekiranya seorang kafir mengetahui apa yang ada di sisi Allah dari rahmatNya, maka tidak ada seorangpun yang berputus asa dari rahmatNya”. ( HR. Muslim) Dalam konteks ini, Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi, seorang tokoh tafsir berkebangsaan Mesir mengelompokkan sifat-sifat Allah yang banyak disebutkan oleh Al Qur’an kedalam dua kategori, yaitu Sifat-sifat Jamilah dan Sifat-sifat Jalilah.
          Kedua sifat itu selalu disebutkan secara beriringan dan berdampingan. Tidak disebut sifat-sifat Jamilah Allah, melainkan akan disebut setelahnya sifat-sifat JalilahNya. Begitupula sebaliknya. Dan memang begitulah Sunnatul Qur’an selalu menyebutkan segala sesuatu secara berlawanan; antara surga dan neraka, kelompok yang dzalim dan kelompok yang baik, kebenaran dan kebathilan dan lain sebagainya. Semuanya merupakan sebuah pilihan yang berada di tangan manusia, karena manusia telah dianugerahi oleh Allah kemampuan untuk memilih, tentu dengan konsekuensi dan pertanggung jawaban masing-masing. “Bukankah Kami telah memberikan kepada (manusia) dua buah mata,. lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan; petunjuk dan kesesatan”. (QS. Al-Balad: 8-10)
          Sifat Jalilah yang dimaksudkan oleh beliau adalah sifat-sifat yang menunjukkan kekuasaan, kehebatan, cepatnya perhitungan Allah dan kerasnya ancaman serta adzab Allah swt yang akan melahirkan sifat Al-Khauf (rasa takut, khawatir) pada diri hamba-hambaNya. Manakala Sifat Jamilah adalah sifat-sifat yang menampilkan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Pengasih, Penyayang, Pengampun, Pemberi Rizki dan sifat-sifat lainnya yang memang sangat dinanti-nantikan kehadirannya oleh setiap hamba Allah swt tanpa terkecuali. Dan jika dibuat perbandingan antara kedua sifat tersebut, maka sifat jamilah Allah jelas lebih banyak dan dominan dibanding sifat jalilahNya.
Pada tataran Implementasinya, pemahaman yang benar terhadap kedua sifat Allah tersebut bisa ditemukan dalam sebuah hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a. Anas menceritakan bahwa suatu hari Rasulullah bertakziah kepada seseorang yang akan meninggal dunia. Ketika Rasulullah bertanya kepada orang itu, “Bagaimana kamu mendapatkan dirimu sekarang?”, ia menjawab, “Aku dalam keadaan harap dan cemas”. Mendengar jawaban laki-laki itu, Rasulullah bersabda, ‘Tidaklah berkumpul dalam diri seseorang dua perasaan ini, melainkan Allah akan memberikan apa yang dia harapkan dan menenangkannya dari apa yang ia cemaskan”. (HR. At Tirmidzi dan Nasa’i).
          Sahabat Abdullah bin Umar ra seperti dinukil oleh Ibnu Katsir memberikan kesaksian bahwa orang yang dimaksud oleh ayat-ayat di atas adalah Utsman bin Affan ra. Kesaksian Ibnu Umar tersebut terbukti dari pribadi Utsman bahwa ia termasuk sahabat yang paling banyak bacaan Al Qur’an dan sholat malamnya. Sampai Abu Ubaidah meriwayatkan bahwa Utsman terkadang mengkhatamkan bacaan Al Qur’an dalam satu rakaat dari sholat malamnya. Sungguh satu tingkat kewaspadaan hamba Allah yang tertinggi bahwa ia senantiasa khawatir dan cemas akan murka dan ancaman adzab Allah swt dengan terus meningkatkan kualitas dan kuantitas pengabdian kepadaNya. Disamping tetap mengharapkan rahmat Allah melalui amal sholehnya.
          Betapa peringatan dan cobaan Allah justru datang saat kita lalai, saat kita terpesona dengan tarikan dunia dan saat kita tidak menghiraukan ajaran-ajaranNya, agar kita semakin menyadari akan keberadaan sifat-sifat Allah yang Jalillah maupun yang Jamilah untuk selanjutnya perasaan harap dan cemas itu terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari. Boleh jadi saat ini Allah masih berkenan hadir dengan sifat JamilahNya dalam kehidupan kita karena kasih sayangNya yang besar, namun tidak tertutup kemungkinan karena dosa dan kemaksiatan yang selalu mendominasi perilaku kita maka yang akan hadir justru sifat JalilahNya.
          Na’udzu biLlah. Memang hanya orang-orang yang selalu waspada yang mampu mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap peristiwa yang terjadi. Saatnya kita lebih mawas diri dan meningkatkan kewaspadaan dalam segala bentuknya agar terhindar dari sifat Jalilah Allah swt dan senatiasa meraih sifat jamilahNya. Dan itulah tipologi manusia yang dipuji oleh Allah dalam firmanNya yang bermaksud, “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia senantiasa cemas dan khawatir akan (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (QS. Az-Zumar [39]: 9)
Semoga kasih sayang Allah yang merupakan cermin dari sifat JamilahNya senantiasa mewarnai kehidupan ini dan menjadikannya sarat dengan kebahagiaan, ketentraman dan kesejahteraan lahir dan bathin. Dan pada masa yang sama, Allah berkenan menjauhkan bangsa ini dari sifat JalilahNya yang tidak mungkin dapat dibendung dengan kekuatan apapun karena memang mayoritas umat ini mampu merealisasikan nilai iman dan takwa dalam kehidupan sehari-hari mereka.


Jumat, 29 Maret 2013

( PAI BAB 1 Semester 2 ) Hukum Bacaan Nun Mati atau Tanwin & Mim Mati






By / Creator               : Yasmin Adha
Kelas                         : VII B
NO.                           : 34

Agama Islam BAB 1 SEMESTER 2
Hukum Bacaan Nun Mati atau Tanwin & Mim Mati

A.        Hukum Bacaan Nun Mati atau Tanwin
Dalam ilmu tajwid,bacaan Nun Mati atau Tanwin dibagi menjadi 5 : Idzhar Halqi , Idghom Bilaghunnah,Idgham Bighunnah,Iqlab,dan Ikhfa`.

1. Idzhar Halqi
Idzhar berarti jelas atau terang. Adapun halqi berarti tenggorokkan adapun yg dimaksud dengan Idzhar Halqi adalah apabila dan nun mati/tanwin bertemu dengan salah satu huruf halqi. Huruf halqi ada 6,yaitu


Alif,ha`,kho`,ain,ha. Cara membacanya adalah jelas,tidak mendengung dan tidak samar.


2. Idghom Bighunnah
Idghom berarti memasukkan,sedangkan Bighunnah berarti mendengung. Adapun yg dimaksud dengan Idghom Bighunnah adalah apabila ada nun mati/tanwin bertemu dengan salah satu 4 huruf,yaitu : ya`,nun,mim,wau. cara membacanya adalah suara nun mati/tanwin dimasukkan kedalam suara huruf tersebut dengan mendengung.

3. Idgham Bilaghunnah
Idhgham berarti memasukkan, sedangkan Bilaghunnah berarti dengan tidak mendengung. Adapun yg dimaksud dengan Idghom Bilaghunnah adalah apabila ada nun mati/tanwin bertemu dengan salah satu dari 2,yaitu : Ro`,Lam. Cara membacanya adalah dimasukkan kedalam huruf tersebut tanpa mendengung.

3. Iqlab
Iqlab berarti menukar/mengganti. Adapun yg dimaksud bacaan iqlab adalah apabila ada nun mati/tanwin bertemu dengan huruf Ba`. Cara membacanya adalah suara nun mati/tanwin diganti dengan mim mati dengan merapatkan bibir dan mendengung.
 Contoh : Mimba`di.

4. Ikhfa’
Ikhfa` berarti menyamarkan. Adapun yg dimaksud dengan bacaan ikhfa` adalah apabila ada nun mati/tanwin bertemu dengan salah satu 15 huruf,yaitu : ta`,tsa,ja,dza,dzal,zain,sien,syien,shot,dhot,to,dhot,fa`,kaf,ka. Cara membacanya suara nun mati/tanwin dibaca samar-samar.

B. Hukum Bacaan Mim Mati
Dalam bacaan ilmu tajwid, hukum bacaan mim mati dibagi menjadi 3, yaitu : Idzhar syafawi,Idghom Syafawi,Ikhfa` Syafawi.





1. Idzhar Syafawi
Idzhar berarti jelas. Sedangkan syafawi berarti bibir. Adapun yg dimaksud dg Idzhar Syafawi adalah apabila ada mim mati bertemu dengan salah satu dari huruf hijaiyah selain mim & ba`.

2. Idgham Syafawi
Idgham berarti memasukkan, sedangkan Syafawi berarti bibir. Adapun yg dimaksud dengan bacaan Idgham Syafawi adalah apabila ada mim mati bertemu dengan huruf mim (م) .  
Cara membacanya, suara mim mati dimasukkan kedalam huruf mim berikutnya dengan mendengung. Idgham syafawi juga disebut Idgham Mimi, dan Idgham Mutamasilain atau Idgham Mislain.

3. Ikhfa` Syafawi
Ikhfa berarti menyamaran, sedangkan syafawi berarti bibir. Adapun yg dimaksud bacaan Ikhfa` adalah apabila ada mim mati bertemu dengan huruf Ba` (بَ). Caranya membacanya, suara mim mati disuarakan dengan samar-samar di bibir disertai suara mendengung.

C. Membedakan Hukum Bacaan Nun Mati atau Tanwin & Mim Mati

1.  Perbedaan Antara Idzhar Halqi & Idzhar Syafawi
Makhraj bacaan Idzhar Halqi adalah di tenggorokan,sedangkan Idzhar Syafawi di bibir. Ketika menyuarakan Nun Mati/Tanwin, bibir terbuka , sedangkan ketika menyuarakan Mim Mati, bibir tertutup.

2.  Perbedaan Antara Idgham Bighunnah & Idgham Syafawi
Makhraj bacaan Idgham Bighunnah berada di ujung lidah dan bibir, sedangkan Idgham Syafawi di bibir. Keti8ka menyuarakan Nun Mati/Tanwin, bibir terbuka *. Adapun ketika menyuarakan Mim Mati, bibir tertutup.

3.  Perbedaan Antara Ikhfa` & Ikhfa` Syafawi
Bacaan ikhfa`,suara Nun Mati/tanwin diucapkan dengan bibir terbuka, sedangkan ikhfa` syafawi dengan bibir tertutup.

Sabtu, 08 Desember 2012

Nabi Muhammad SAW.

A. Kepercayaan dan Budaya Jahiliyah Berlawanan dengan Ajaran Islam.

Zaman Jahiliyah,artinya zaman kebodohan / zaman gelap gulita karena miskin ilmu. Itulah sebabnya bangsa Arab yang bertempat tinggal di sekitar Jazirah Arab (Kota Mekkah) pada waktu itu keadaan akhlaknya sangat buruk. Kehidupan sehari – harinya tanpa aturan dan tanpa adanya norma-norma sosial, dan norma Agama.

1. Kepercayaan dan Budaya Jahiliyah.
             Pada zaman Jahiliyah hak-hak wanita kurang diperhartikan sehingga kaum wanita kurang menikmati kebahagiaan. Bahkan bila seorang ibu sedang mengandung, hatinya merasa was-was takut kalau bayi yang dikandungnya perempuan. Sebab jika perempuan, kaum Jahiliyah akan membuangnya ke hutan belantara atau dengan tega membunuhnya dengan cara menguburnya hidup-hidup, karena dianggapnya perempuan tak bisa berperang, atau tak bisa kerja berat. Mereka tidak sadar, bahwa mereka sudah lahir dari seorang wanita.
        Selain itu,mereka juga gemar berjudi,mabuk-mabukkan,dan hidupnya dihabiskan dengan berfoya-foya. Adapun kepercayaan bangsa Arab sebelum datang Agama Islam, sebagai berikut :

1.     Menyembah malaikat . Bahkan ada yang menganggap malaikat sebagai putri-putri Tuhan.
2.    Menyembah jin , ruh , dan hantu . Suatu tempat jin yang terkenal disebut Darahim.
3.    Menyembah bintang-bintang . Ada juga yang menyembah tata surya, seperti menyembah matahari, bulan, dan bintang-bintang yang gemerlap cahayanya. Mereka menganggap bintang itu diberi kekuasaan penuh oleh Tuhan untuk mengaturalam luas ini.
4.    Menyembah Berhala. Sebab-sebab orang Mekkah menyembah berhala, antara lain : Amr bi Lubayyi, seorang dari Bani Khuz`ah meniru orang-orang Balka di daerah Syam, Ia tertarik dengan perbuatan itu.


2. Kerasulan Muhammad Saw.             
      Pada suatu tempat & waktu yang telah ditentukan oleh Allah Swt, di tanah Arabiyah, pada tanggal 12 Rabiul Awal pada tahun Gajah (bertepatan dengan tanggal 20 April 571 M ), lahir seorang bayi laki – laki di kota Mekkah. Ia lahir sebagai anak yatim, karena ayahnya telah wafat kira-kira sekitar 7 bulan sebelum dia lahir. Sang ayah tidak mewariskan harta benda yang banyak,kecuali 5 ekor unta dan seorang budak perempuan. Kehadiran bayi tersebut disambut dengan kasih sayang oleh kakeknya Abdul Muttalib. Kemudian bayi itu dibawanya ke kaki Ka`bah. Ditempat suci inilah bayi itu diberi nama Muhammad,suatu nama yang belum pernah ada sebelumnya.

        Ketika berumur 6 tahun,ibunya Siti Aminah yang tercinta meninggal dunia. Maka dia diasuh oleh kakeknya. Tetapi setelah 2 tahun dibawa asuhan beliau, wafat pula kakeknya yang lantas diasuh kemudian oleh pamannya Abu Thalib. Muhammad kemudian tumbuh & berkembang berdasarkan alam dimana dia lahir. Tanah Arabiyah yang gersang,tandus,tidak ada hujan,sedang manusiannya-pun Jahiliyah. Ketika masa remaja, Muhammad terkenal sebagai orang yang berakhlak dan berkarakter tinggi, kejujurannya terkenal luas,tidak pernah sujud kepada berhala-berhala yang disembah orang bangsanya,dia benci terhadap judi dan tidak pernah minum-minuman yang memabukkan atau arak,walaupun seteguk. Akalbudinya berkembang menuju kesempurnaan. Namanya makin populer di mata masyarakat,sebagai pemuda yang sopan,penyantun,dan suka menolong. Suatu konsensus masyarakat,menamai Muhammad dengan gelar Al-Amin, artinya pemuda yang terpercaya.

        Semua itu merupakan perbendaharaan dan tempat persemaian yg subur bagi kepemimpinannya kelak,untuk memangku tugas “Sayyidul Anam”, pemimpin umat mansia. Ketika menginjak usia 40 tahun, pada malam 17 Ramadhan bertepatan dengan 6 Agustus 610 M,sewaktu beliau berkhalwat di gua Hira`, datang malaikat Jibril a.s membawa suatu tugas suci dari Allah Swt, untuk Muhammad. Pada waktu itulah wahyu pertama turun,yaitu ayat 1-5 dari Surah Al-`Alaq.dan inilah pula saat penobatan beliau sebagai Rasul ( Utusan Allah ) kepada seluruh manusia sampai akhir zaman.

        Kemudian beliau hanya menceritakan kejadian penerimaan wahyu di Gua Hira` kepada istri beliau tercinta yang tetap setia menemaninya yaitu Siti Khodijah ra. Dan kepada Waroqoh bin Naufal salah seorang anak paman Khodijah. Di masa Jahiliyah Waroqoh bin Naufal bukanlah penyembah berhala sebagaimana kebanyakan orang-orang  aaaArab tapi Ia adalah pemeluk agama Nasrani yang masih benar ajarannya karena masih belum diubah oleh pendetanya. Ia dapat menulis dengan bahasa Ibrani. Ia sudah lanjut usia dan telah kehilangan penglihatan ketika Nabi Saw menemuinya. Ia berkata bahwa Ia akan membantu perjuangan Nabi saw jika dikaruniai umur panjang dan kesehatan. Tetapi tidak lama kemudian Ia meninggal dunia. Dan perjuangan Nabi pun hanya terbatas pada kerabat dekatnya saja.

        Sedangkan orang-orang yang pertama masuk Islam diantaranya isteri beliau, Siti Khodijjah ra, disusul putera asuhan beliau Zaid bin Tzabit, lau putera paman beliau, Ali bin Abi Tholib, tak lama kemudian menyusul teman karib beliau Abu Bakar, tidak ketinggalan pula PENDETA Waroqoh bin Naufal.

        Setelah beberapa lama Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw untuk berdakwah kepada masyarakat yang lebih luas sehingga ketika umat Islam bertambah karenayna, muncul beberapa reaksi orang – orang kafir untuk merintangi perkembangan Islam. Mereka memberi julukan –julukan jelek kepada Nabi dengan trujuan menghindarkan masyarakat dari ajakan beliau untuk masuk Islam. Diantaranya adalah “orang gila” , ”tukang sihir” , ”ahli syair , “pendusta” , dan llai sebagainya.

        Karena adanya penganiayaan & rintangan yang dahsyat, maka Nabi mengijinkan para sahabatnya untuk hijrah ( Pindah ) ke Habsyi / Habasyah ( Ethiopia ). Ini adalah hijrah pertama yg dilakukan kaum muslimin dengan peserta sebanyak 83 orang lelaki dan 18 orang perempuan dan dipimpin oleh ja`far bin Abu Thalib. Akhirnya kepergian kaum muslimin didengar oleh orang kafir sehingga mereka segera mengirim utusan kepada raja Habsyi agar menolak kedatangan  umat Islam . tetapi raja Habsyi menerima kaum kaum muslim  dan menolak utusan Quraisy.

        Belum puas dengan kelakuannya, orang-orang kafir berkumpul membuat undang-undang untuk memboikot Nabi dan pengikutnya. Undang-undang  yang digantung dinding Ka`bah sampai 3 tahun. Setelah 3 tahun berlalu, undang-undang itu tidak diberlakukan lagi,karena sudah hancur. Belum begitu lama Nabi & pengikutnya merasakan bebas , Khodijjah isteri beliau meninggal. Kemudian disusul pamannya Abu Thalib. Wafatnya kedua pembela Nabi ini,menjadikan orang kafir semakink berani merintangi perjuangan Nabi. Karena musibah ini, ahli sejarah menyebutnya sebagai “Tahun duka cita” atau “Amul Khuzni”.

        Perubahan suasana itulah yang membuka jalan bagi Islam untuk  hidup ditengah-tengah umat manusia, setelah semua rintangan tersingkirkan dari tengah jalan. Perubahan itu terjadi pada saat hijrah,dari Mekkah menuju kota Yasrib ( Madinah ) yang bertepatan tanggal 12 Rabiul Awal tahun k-13e dari kerasulan Nabi Muhammad Saw.

        Dalam hal ini  Rasulullah Saw, bersama kaum muslimin yang disebut sebagai kaum Muhajjirin sedangkan kaum muslimin yang sudah berada DI Madinah disebut Kaum Anshar. Sejak Rasul Allah Saw, tinggal menetap di Madinah, beliau sibuk mecurahkan perhatiannya untukmeletakkan dasar-dasar yang diperlukan guna menegakkan Risalahnya,yaitu :

1.     Memperkokoh hubungan umat Islam dengan Tuhan-nya.
2.    Memperkokoh hubungan intern umat Islam, yaitu antara sesdama kaum muslimin.
3.    Mengatur hubungan antar umat Islam dengan orang-orang asing yang tidak seAgama ( non muslim ).
Pekerjaan pertama yang dilaksanakan Rasulullah Saw ialah membangun masjid untuk syi`ar Islam. Di Madinah inilah wahyu-wahyu illahi turun untuk menetapkan hukum-hukum syari`at secara terperinci guna mengatur kehidupan kaum muslimin,baik menenai soal yang bersifat individual maupun sosial.


B. Perjuangan Dakwah

1. Perang Badar
        Mulai dari perang Badar yg diawali karena banyaknya kaum muslimin yg dirampas oleh kaum musyrikin terutama saat hijrah dariMekkah ke Madinah. Maka tergeraklah kaum muslimin untuk merebut kembali harta kekayaannya. Suatu ketika saat kaum musyrikin  Quraisy berangkat meninggalkan Syam pulang ke Mekkah membawa perniagaan yg besar nilainya. Mendengar bahwa akan ada serangan dari kaum muslimin, maka kaum musyrikin Quraisy Mekkah memberi bala bantuan berupa pasukan,dimana pasukan muslimin yg berjumlah 313 dengan 70 untanya sedangkan pasukan musuh sekitar 950 prajurit dengan 200 untanya ditambah dengan kaum wanita  yang dipimpin oleh Abu Jahal. Pada peperangan tersebut dengan semangat kaum muslimin dan akhirnya dimenangkan oleh pasukan kaum muslimin. Kaum kafir Quraisy yg mati sebanyak 70 orang dan yg ditawan 70 orang juga, sedangkan kaum muslimin yang gugur 14 orang. Dalam peperangan tersebut ada beberapa orang antara anak dengan orangtuanya saling membunuh. Hal ini karena membela keyakinan masing-masing,seperti Abu Bakar Ash Shidiq dengan Abdurrahman. Kemudian Rasulullah Saw, bersama para sahabatnya pulang ke Madinah membawa kemenangan besar dan menggiring tawanan perang.


2. Perang Uhud
        Pasukan muslimin mengambil posisi di ‘Udwatul Wadi,sebuah dataran dilereng gunung Uhud membentengi diri dengan gunung itu dari belakangnya dan Nabi yg memimpin pasukan perang tersebut yg berjumlah 300 prajurit, dengan menyebarkan pasukan panah yang berjumlah 50 orang. Sedangkan kaum Quraisy berjumlah 3000 orang. Pertempuran babak pertama sungguhmenimbulkan keheranan orang. Seolah – olah 3000 pasukan musyrikin bertempur melawan 30.000 pasukan muslimin,bukan melawan beberapa ratus saja! Pasukan muslimin bertempur dengan keberanian sangat tinggidan dengan keyakinan mantap. Setelah pasukan musuh terpukul mundur dan tunggang-langgang, pasukan pemanah melihat barang-barang perlengkapan musuh berserakan memenuhi medan pertempuran, mereka turun untuk mengambil barang itu ( Ghanimah ). Melihat bagian belakang kaum muslimin kosong,tidak terlindungi, maka musuh memutar haluannya dan menyerang dari belakang, sedang lainnyamenyerang dari depan. Sehingga pasukan kaum muslimin menjadi berbalik,atau dalam posisi terjepit. Dalam usaha menangkis pasukan musuh itu tidak sedikit yang gugur sebagai Pahlawan Syahid

Sebagian pasukan musyrikin berhasil mendekati tempat dimana Rasulullah Saw, berada. mereka melempari beliau dengan batu  hingga beliau luka parah pada wajah dan bagian rahangnya. Beberapa orang anggota pasukan beliau menghindari serangan musuh dengan memanjat keatas bukit, dan beberapa orang anggota pasukan muslimin berlindung dibalik batu-batu besar segera bergabung dengan rombongan beliau. Semangat mereka pulih kembali ketika menyaksikan Rasulullah Saw, masih dalam keadaan sehat yang semulaIa sangka gugur. Pasukan Muslimin lalu bergerak menyerang musuh dengan senjata seadanya, termasuk batu-batu sehingga berhasil mengusir musuh dari tempatnya. Kaum Muslimin pulang kembali ke Mekkah setelah mengantongi kemenangan berperang di Pegunungan Uhud.

Peperangan demi peperangan dilalui beliau dan kaum muslimin dalam menegakkan agama Islam di muka bumi ini.selain peperangan diatas juga ada peperangan Ahzab             ( Khandaq ), perang Mut`ah, perang Hunain, perang Tabuk, dll. Akhirnya kemenangan demi kemenangan dicapainya. Dan Islam pun semakin hari semakin kokoh di bumi Arabiyah, jumlah kaum muslimin juga semakin bertambah menjadi beribu-ribu banyaknya ( 10.000 ) orang Muslimin.
   


Diketik oleh  :  Yasmin Adha
Created By   :  Yasmin Adha
      


__________---o00o---__________